Felicia's Blog

Life for me is....

Saturday, 12 December 2009

Dreamer

Aku adalah seorang pengembara yang berkelana mencari sebuah titik.
Titik itu adalah titik terang.
Titik terang itu adalah titik terang kehidupan.
Titik terang kehidupan berarti sebuah jalan keluar.
Jalan keluar itu adalah kebebasan dari kecemasan dan ketakutan.
Kecemasan dan ketakutan adalah perasaan buruk yang kau dapat dari penderitaan.

Aku adalah seorang pengembara. Aku mencari kebebasanku dari kekang yang mengikatku dalam hidup. Aku mencari air untuk memuaskan dahagaku akan kebahagiaan.
Aku berjalan, berjalan dan terus berjalan, hingga wajahku keriput, tubuhku gemetar, rambutku memutih, hingga mataku tak dapat melihat dan telingaku tak dapat mendengar.
Aku belum juga lepas dari belenggu penderitaan dan pasung kesedihan.


Dalam kembaraku aku bertemu seekor singa. Singa itu haus akan air. namun tak seperti aku, ia menemukan sungai yang jernih di depannya, menantinya untuk datang dan menyesap airnya.
Aku berkata kepadanya, "Wahai singa yang perkasa, dapatkah kau memberitahu aku yang tersesat ini, di mana aku bisa menemukan sungai tempat aku bisa melepas dahagaku akan kebahagiaan?"
Kemudian dengan suaranya yang gagah perkasa singa itu memberiku jawabannya, "Aku meminum air yang ada di depan mataku. Seharusnya kau pun dapat mendengar aliran airnya dalam hatimu dan berjalan ke arahnya untuk meminum airnya."
Aku pergi dengan kecewa. Bahkan singa yang raja hutan pun tak bisa menemukan sungaiku.

Di tengah kelanaku, aku bertemu seekor burung yang terbang bebas di angkasa, menari dan menyanyi bagaikan di surga. Aku iri pada mereka.
Maka akupun bertanya, "Wahai burung-burung yang baik. Maukah kalian memberitahuku di mana aku bisa menemukan langit kebebasanku?"
Burung-burung itupun menjawab dengan jenaka, "Aku melihat dan merasakan langit di sisiku ketika aku terbang. Seharusnya kau juga melihatnya dengan matamu dan merasakannya dengan hatimu dan kau akan menemukan langitmu."

Ah... Tak bisakah mereka semua mengerti bahwa yang kulihat saat ini hanyalah api kecemburuan dan kurungan penuh siksa?

Maka akupun meneruskan perjalananku. Menanti-nanti waktu dimana aku akan merasakan secercah cahaya harapan menerpa wajahku dan merasakan sejuknya embun kegembiraan di jari-jariku.

Aku berkelana, berkelana, dan berkelana. Tanpa henti. Aku tak percaya lagi pada makhluk-makhluk di sekelilingku. Mereka hanya memberitahu hal-hal yang tak kupahami.
Pengembaraan ini kulakukan sendiri, sendirian, dengan sepi dan tanpa kawan.
Panjang jalan yang kutempuh sudah sepanjang jalannya hidupku.

Oh! Begini sulitkah untuk menjadi bahagia?
Aku mencapai penghujung hidupku.
Aku adalah seorang pengembara. Aku mencari kebebasanku dari kekang yang mengikatku dalam hidup. Aku mencari air untuk memuaskan dahagaku akan kebahagiaan.
Aku berjalan, berjalan dan terus berjalan, hingga wajahku keriput, tubuhku gemetar, rambutku memutih, hingga mataku tak dapat melihat dan telingaku tak dapat mendengar.
Aku belum juga lepas dari belenggu penderitaan dan pasung kesedihan.

Aku tak dapat lagi melihat birunya langit yang ada di atasku.
Aku tak dapat lagi mendengar kicauan burung di pagi hari.
Tubuhku tak cukup kuat untuk berjalan di atas tanah berumput yang berembun.
Ah...
Inilah kebahagiaan.
Ternyata selama hidupku, aku menghirupnya setiap hari, meminumnya, mengecapnya, mendengarnya, melihatnya, menyentuhnya, berdiri di atasnya SEPANJANG HIDUPKU.

Kemudian aku pun pergi untuk pengelanaanku yang selanjutnya. SURGA.


Note :
Selama ini manusia selalu mencari kebahagiaan. termasuk gw sendiri. Seringkali kita semua sebagai menusia menganggap bahwa hidup ini sangat menyedihkan dan penuh kesengsaraan dan rintangan tanpa henti. Tapi ternyata kebahagiaan itu selalu ada di depan mata kita...

Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang semakin dicari akan semakin sulit ditemukan.

0 comments:

Post a Comment

Thank you...